Dalam sejarah olahraga renang, gaya kupu-kupu menonjol sebagai salah satu gaya yang paling menantang dan memukau. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa gaya ini bukanlah gaya yang berdiri sendiri. Ia lahir sebagai modifikasi gaya dada di awal abad ke-20. Perkembangan ini tidak disengaja, melainkan hasil dari eksplorasi dan inovasi para perenang yang berani mencoba sesuatu yang baru demi kecepatan.
Pada era 1930-an, peraturan renang gaya dada masih memperbolehkan lengan diangkat dari air. Para perenang cerdas melihat celah ini. Mereka mulai bereksperimen dengan mengangkat kedua lengan secara serentak ke depan, mirip gerakan lumba-lumba. Gerakan ini, pada awalnya, adalah sebuah modifikasi gaya dada yang bertujuan untuk mengurangi hambatan di air.
Hasilnya sangat mengejutkan. Perenang yang menggunakan teknik ini jauh lebih cepat daripada yang lain. Gerakan lengan yang sinkron di udara jauh lebih efisien daripada gerakan di dalam air. Ini memicu perdebatan sengit di dunia renang, karena para ahli bertanya-tanya apakah teknik baru ini masih bisa dianggap sebagai gaya dada.
Federasi Renang Internasional (FINA) akhirnya turun tangan. Setelah beberapa tahun pengamatan, mereka memutuskan bahwa gerakan baru ini, yang begitu berbeda, layak menjadi gaya tersendiri. Pada tahun 1953, secara resmi gaya kupu-kupu diakui sebagai gaya keempat, memisahkan diri dari modifikasi gaya dada yang menjadi asal-usulnya.
Meskipun lahir dari gaya dada, gerakan kaki kupu-kupu mengalami evolusi lebih lanjut. Pada awalnya, perenang menggunakan tendangan kaki gaya dada. Namun, kemudian, para perenang Amerika, seperti Jack Sieg, mengembangkan tendangan lumba-lumba yang sinkron dengan gerakan lengan. Ini adalah modifikasi gaya dada yang revolusioner.
Tendangan lumba-lumba, yang melibatkan gerakan naik-turun kedua kaki secara bersamaan, memberikan dorongan yang luar biasa. Kombinasi gerakan lengan dan kaki yang baru ini mengubah gaya kupu-kupu menjadi gaya yang kita kenal sekarang: gaya yang bertenaga, cepat, dan membutuhkan koordinasi tinggi.
