Pada tahun 1904, Bandung memiliki sebuah permata baru: Kolam Renang Cihampelas. Bukan sekadar fasilitas rekreasi biasa, kolam renang ini adalah simbol status dan privilese yang eksklusif. Pada masa Hindia Belanda, akses ke tempat semacam ini sangat terbatas, hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan pribumi dan tentu saja, para penjajah Belanda.
Lokasi di Cihampelas, yang kala itu merupakan area hijau di pinggiran kota Bandung, menambah kesan eksklusivitas. Udara sejuk dan pemandangan asri menjadikan Kolam Renang Cihampelas tempat pelarian sempurna dari hiruk pikuk kota, sebuah oasis bagi mereka yang berhak.
Pembangunan fasilitas modern seperti ini pada awal abad ke-20 menunjukkan investasi pada infrastruktur rekreasi bagi kalangan elite. Kolam Renang Cihampelas bukan hanya tempat berenang, tetapi juga pusat sosial di mana interaksi antar golongan teratas terjadi.
Bagi para penjajah Belanda, kolam renang ini adalah bagian dari gaya hidup Eropa yang mereka pertahankan di tanah jajahan. Ini adalah tempat untuk bersantai, bersosialisasi, dan melarikan diri sejenak dari iklim tropis yang panas, sebuah kemewahan yang hanya mereka miliki.
Sementara itu, bangsawan pribumi yang memiliki akses ke Kolam Renang Cihampelas menunjukkan kedekatan atau status sosial yang tinggi di mata penguasa kolonial. Ini adalah salah satu bentuk privilese yang membedakan mereka dari rakyat jelata, menegaskan hierarki sosial pada masa itu.
Aspek sanitasi dan kebersihan kolam renang pada masa itu tentu berbeda dengan standar modern. Namun, untuk zamannya, fasilitas ini dianggap sangat maju dan mewah. Air yang jernih dan lingkungan yang terawat menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.
Keberadaan Kolam Renang Cihampelas juga menjadi bukti modernisasi kota Bandung pada awal abad ke-20. Kota ini berkembang menjadi Paris van Java, dengan fasilitas dan gaya hidup yang menyerupai kota-kota di Eropa, meskipun hanya untuk segmen masyarakat tertentu.
Kolam renang ini mungkin juga menjadi saksi bisu interaksi budaya yang terbatas antara elite Belanda dan pribumi. Meskipun ada pemisahan yang jelas, tempat-tempat rekreasi semacam ini memungkinkan pertemuan di luar konteks pekerjaan atau politik.
