Keselamatan di air (water safety) adalah isu global yang krusial, dan penguasaan Keterampilan Dasar renang dan pengetahuan keselamatan adalah garis pertahanan pertama melawan bahaya tenggelam. Tragedi yang terjadi di air sering kali disebabkan oleh kepanikan dan kurangnya Keterampilan Dasar untuk bertahan hidup selama beberapa menit kritis menunggu bantuan. Keterampilan ini tidak hanya tentang kemampuan berenang jarak jauh, tetapi lebih kepada kemampuan untuk mengapung, mengontrol pernapasan, dan merespons situasi darurat dengan tenang. Menguasai Keterampilan Dasar ini adalah tanggung jawab setiap individu, karena ia tidak hanya dapat menyelamatkan nyawa diri sendiri, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk memberikan bantuan yang aman kepada orang lain.
Keterampilan Kunci 1: Survival Float dan Treading Water
Dua Keterampilan Dasar bertahan hidup yang paling penting adalah survival float (mengapung) dan treading water (menginjak air). Dalam situasi di mana kelelahan atau cedera mengancam, kemampuan untuk mengapung secara telentang atau diam di tempat dengan menginjak air dapat menghemat energi secara drastis. Survival float mengajarkan tubuh untuk beristirahat di permukaan air dengan hanya sedikit usaha, sementara treading water memungkinkan seseorang untuk tetap berada di permukaan saat menunggu tim penyelamat atau mencari rute aman. Menurut Kurikulum Keselamatan Air Nasional (KKAN) yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Denpasar pada Januari 2026, setiap warga diwajibkan mampu mengapung selama minimal 3 menit sebagai indikator keamanan air dasar.
Keterampilan Kunci 2: Kontrol Pernapasan dan Rasionalitas
Aspek water safety yang sering diabaikan adalah kontrol mental dan pernapasan. Dalam situasi panik, orang cenderung mengalami hiperventilasi, yang memperburuk keadaan. Renang, melalui latihan pernapasan yang terkontrol, mengajarkan individu untuk mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara paksa di bawah air. Keterampilan ini, yang dilatih berulang kali di kolam, membantu mempertahankan rasionalitas. Tim Penanggulangan Bencana dan Pencarian (SAR) Provinsi Jawa Barat secara rutin menguji anggotanya pada kemampuan mempertahankan ketenangan dan pernapasan teratur selama 5 menit di bawah simulasi air yang berombak, sebagai bagian dari tes ketahanan yang diadakan setiap hari Rabu pagi.
Keterampilan Kunci 3: Reach, Throw, Row, Go
Memberikan pertolongan kepada orang lain yang tenggelam harus selalu memprioritaskan keselamatan penyelamat. Keterampilan Dasar penyelamatan non-kontak (tanpa menyentuh korban) seperti reach, throw, row, go (jangkau, lempar, dayung, baru pergi) sangat ditekankan. Jangkau korban dengan tongkat atau handuk, lempar pelampung, atau gunakan perahu, sebelum memutuskan untuk langsung “pergi” (berenang) ke arah korban—yang merupakan pilihan terakhir hanya jika Anda adalah perenang terlatih. Kepolisian Unit Air dan Pantai (Polairud) melarang anggota yang tidak bersertifikat lifeguard untuk melakukan penyelamatan kontak langsung, sesuai peraturan internal tertanggal 12 November 2025, guna mencegah tenggelam ganda.
Secara keseluruhan, keselamatan di air adalah kombinasi dari Keterampilan Dasar fisik dan mental. Dengan menguasai kemampuan mengapung, mengendalikan pernapasan di bawah tekanan, dan mengetahui teknik penyelamatan yang aman, setiap individu dapat meningkatkan peluangnya untuk bertahan hidup dan menjadi sumber bantuan yang bertanggung jawab di lingkungan air.
